Pages

Jumat, Agustus 25, 2017

LANDASAN MEDIA PEMBELAJARAN

Landasan Media Pembelajaran

A. Landasan Psikologis
Media Pembelajaran Landasan psikologis penggunaan media pembelajaran ialah alasan atau rasional mengapa media pembelajaran dipergunakan ditinjau dari kondisi pebelajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi.Walaupun telah diketahui adanya pandangan yang berbeda tentang belajar dan bagaimana belajar itu terjadi, namun dapat dikatakan bahwa belajar itu adalah suatu proses yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku oleh adanya pengalaman. Perubahan perilaku itu dapat berupa bertambahnya pengetahuan, diperolehnya keterampilan atau kecekatan dan berubahnya sikap seseorang yang telah belajar. Pengetahuan dan pengalaman itu diperoleh melalui pintu gerbang alat indera pebelajar karena itu diperlukan rangsangan (menurut teori Behaviorisme) atau informasi (menurut teori Kognitif), sehingga respons terhadap rangsangan atau informasi yang telah diproses itulah hasil belajar yang diperoleh. 

B. Landasan Historis
Media Pembelajaran Yang dimaksud dengan landasan historis media pembelajaran ialah rasional penggunaan media pembelajaran yang ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Untuk mengetahui latar belakang sejarah penggunaan konsep media pembelajaran marilah kita ikuti penjelasan berikut ini. Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya kon-sepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923.Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada pebelajar. Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan telinga. Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale. Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an. Dengan diterapkannya konsep komunikasi dalam pembelajaran, peekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan yang berupa bahan audio visual untuk pembelajaran, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komu-nikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi atau bahan) kepada penerima (pebelajar). Gerakan komunikasi audio visual memberikan penekakan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menggunakan sistem pembelajaran yang utuh. Jadi konsepsi audio visual berusaha mengaplikasikan konsep komunikasi, sistem, disain sistem pembelajaran dan teori belajar dalam kegiatan pembelajaran. Perkembangan berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya konsepsi “instructional materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda dengan konsepsi sebelumnya. Karena pada intinya konsepsi ini ialah mengaplikasikan proses komunikasi dan sistem dalam merencanakan dan mengembangkan materi pembelajaran. Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan konsepsi “instructional materials” adalah “teaching/ learning materials”, “learning resources”. Dalam tahun 1952 ini juga telah digunakan istilah “educational media” dan “instructional media”, yang sebenarnya secara konsepsional tidak mengalami perubahan dari konsepsi sebelumnya, karena di sini dimaksudkan untuk menunjukkan kegiatan komunikasi pendidikan yang ditimbulkan dengan penggunaan media tersebut. Puncak perkembangan konsepsi ini terjadi sekitar tahun 1960-an. Dengan mengaplikasikan pendekatan sistem, teori komunikasi, pengembangan sistem pembelajaran, dan pengaruh psikologi Behaviorisme, maka muncullah konsep “educational technology” dan/ atau “instructional technology” di mana media pendidikan atau media pembelajaran merupakan bagian dari padanya.

C. Landasan Teknologis
Media Pembelajaran Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan pebelajar untuk belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap pebelajar sesuai dengan karakteristiknya. Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disainnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi (diseminasi). Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh pebelajar yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap pebelajar akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. 

Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:

a. Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more productive). 
Dengan media dapat meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan jalan mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.

b. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual).
Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain dalam variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.

c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give instruction a more scientific base). Artinya perencanaan program pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa, karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan disain pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

d. Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat

e. Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more immediate).
Karena media mengatasi jurang pemisah antara pebelajar dan sumber belajar, dan meng-atasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekongkritan” meskipun tidak secara langsung.

f. Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal).

D.Landasan Empirik 
 Media Pembelajaran Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik pebelajar dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya bahwa pebelajar akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristiknya. Pebelajar yang memiliki gaya visual akan lebih mendapat keuntungan dari penggunaan media visual, seperti film, video, gambar atau diagram; sedangkan pebelajar yang memiliki gaya belajar auditif lebih mendapatkan keuntungan dari penggunaan media pembelajaran auditif, seperti rekaman, radio, atau ceramah guru. Atas dasar ini, maka prinsip penyesuaian jenis media yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan karakteristik individual pebelajar, menjadi semakin mantap. Pemilihan dan penggunaan media hendaknya jangan didasarkan pada kesukaan atau kesenangan guru, tetapi dilandaskan pada kecocokan media itu dengan karakteristik pebelajar, di samping sejumlah kriteria lain yang dijelaskan pada bagian lain buku ini.

E.Landasan filosofis 
Ada suatu pandangan bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Bukankan dengan adanya berbagai media pembelajaran justru siswa dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media yang sesuai dengan karakteristik pribadinya? Dengan kata lain siswa dihargai harkat kemanusiaanya diberi kebebasan untuk menentukan pilhan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki keprbadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis 


diambil dari http://tugaskuliah-ilham.blogspot.co.id/2011/03/landasan-media-pembelajaran.html

20 komentar:

  1. Apakah suatu media pembelajaran atau perangkat pembelajaran harus memuat ke 5 landasan tersebut ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau menurut saya media pembalajaran harus memuat kelima landasan tersebut. Karena lndsan trsbut sebagai acuan qt dlm membuat dn mnngbngkan multimedia

      Hapus
  2. Mnurut kk bagaimana ke lima landasan tersebut dpat terintegrasi dlm media pmblajaran yg kita buat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. izin berpendapat kk. menurut saya ke lima landasan tersebut dpat terintegrasi dlm media pmblajaran saat kita sebagai pembuat media pembelajaran memperhatikan dan mempertimbangakan kelima landasan tersebut ketika membuat media tersebut. terimakasih

      Hapus
  3. Menurut kakak, seberapa efektifkah media ini dalam meningkatkan produktifitas pendidikan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Izin menanggapi, media ICT sangat berperan dalam meningkatkan produktivitas pendidikan. Dikarenakan ada beberapa hal yakni salah satunya ialah pembelajaran akan efektif ketika adanya proses pemahaman yang baik dari peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan, peran ict sangat membantu proses KBM karena siswa akan lebih tertarik dan suka dalam belajar.

      Hapus
  4. Menurut kakak, seberapa efektifkah media ini dalam meningkatkan produktifitas pendidikan?

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum kk
    saya ingin bertanya di atas saya ada membaca "karakteristik individual pebelajar", bisa tolong sebutkan macam-macamnya?
    dan bagaimana cara pemilihan dan penggunaan media yang dilandaskan pada kecocokan media dengan karakteristik pebelajar?

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksud karakteristik individual disini yaitu tipe belajar seperti apa sih dia, misal ada siswa kita yang karakteristik belajarnya lebih ke melihat sambil mendengar, ada siswa yang karakteristik belajarnya lebih mudah jika sambil mendengar musik dan sebagainya,, banyak karakteristik siswa. Nah maka adanya ICT tujuannya yaitu membantu, Karna menurut teory dual coding seseorang akan belajar ebih baik jika memanfaatkan 2 channel dalam dirinya yaitu audio dan visual.

      Hapus
  6. Pada Media Pembelajaran Landasan psikologis penggunaan media pembelajaran ialah alasan atau rasional mengapa media pembelajaran dipergunakan ditinjau dari kondisi pebelajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi.
    Bagaimana menurut kakak, jika pembelajaran dikelas ada beberapa siswa yang belum mengalami perubahan pengetahuan. Apakah guru yang kurang tepat dalam mengajar atau siswa yang masih lambat dalam menerima pelajaran?
    Apa solusinya menurut kakak ?
    Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. izin menanggapi, solusi dari permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan baik, mungkin bagi siswa media yang kita gunakan bisa saja kurang menarik atau memang siswa nya lah yang lambat proses berpikirnya, solusi nya adalah evaluasi dari kita sendiri, dimanakah salah dari proses pembelajarannya, apabila terjadi kesalahan mungkin cobalah menggunakan model - model pembelajaran yang menunjang keaktifan siswa bisa dari media pembelajaran atau pun pembelajaran konvensional.

      Hapus
    2. Tentu guru harus memahami karakteristik siswanya terlebih dahulu, kemudian guru jadi tau apa saja pendekatan dalam ICT yg bisa diterapkan untuk menyesuaikan dengan karakteristiksiswanya tsb, dengan memperhatiakn prinsip-psrinsip ICt juga, jika siswa masih belum mengerti, adalah tugas seorang guru untuk mntelaah dibagian mananya yang menjadi kendala belajar siswanya, kemudian guru mencarikan solusi dari permasalahan tsb.

      Hapus
  7. Izin bertanya kk. pada materi yang dipaparkan diatas terdapat "Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran salah satunya yaitu memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual)", maksudnya itu bagaimana kk? bukankah sekarang siswa dituntut untuk bisa bekerja sama, belajar dalam kelompok, dan bersosial. apakah pembelajaran yang sifatnya individual ini baik dan merupakan manfaat? terima kasih kk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya disini bukan menjadikan siswa tersebut bersifat individual, tetapi dengan adanya ICT siswa semakin bia meningkatkan kemampuan individualnya, dengan kemandiriannya belajar dibantu oleh ICT maka siswa mampu meningkatkan kemampuan atau skill individunya.

      Hapus
  8. Menurut teori, Media Pembelajaran dari Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik pebelajar. Nah menurut kan eka bagaimana media ICT matematika yang digunakan untuk mengajarkan siswa yang memiliki keterbelakangan mental. Bagaimana proses interaksi antara media dan peserta didik tersebut??
    Adakah solusi yang baik dalam perancangan media untuk siswa tersebut?

    BalasHapus
  9. Apakah dari ke 5 landasan media pembelajaran matematika bisa digunakan, kalo bisa landasan mana yang lebih dominan acuannya?

    BalasHapus
  10. kak dalam menyusun media,
    apakah harus semua landasan terpenuhi?

    BalasHapus
  11. Pada landasan psikologis dijelaskan bahwa siswa belajar berdasarkan pengalaman di masa lalu. Lalu bagaimana dgn siswa yg hanya memiliki sedikit pengalaman dimasa lalu, apakah akan menganggu pembelajaran nya?

    BalasHapus
  12. Itulah fungsinya kita sebagai guru, bukankah saat memulai materi Kita perlu menanyakan seberapa jauh pengetahuan awal siswa kita mengenai materi tsb, itulah apersepsi, untuk menyamaratakan pengetahuan awal kita tentu itu adalah tugas seorang guru sehingga tidak akan ada kendala dalam pemanfaatan ICT.

    BalasHapus
  13. dari landasan-landasan tersebut, apakah perlu kita dalam membuat media harus memuat sdari semua landasan tersbut?

    BalasHapus